Kampung Buku, ‘Buah Dendam’ Edi Dimyati

Edi Dimyati memiliki dendam yang terpendam. Kekecewaan yang dialaminya mendorong Edi untuk berbuat sesuatu agar hal itu tidak dialami oleh orang lain.

Suatu ketika, Edi gagal masuk ke sebuah perpustakaan. Oleh pustakawan, penampilan Edi dinilai kurang rapi untuk memasuki ruangan. Edi memang baru saja selesai bermain dengan kawan-kawannya. Kala itu, ia hanya mengenakan celana pendek, kaos oblong, dan sandal jepit.

“Nah akhirnya saya keluar gitu ya dengan wajah kecewa, dan berjalan ke samping kiri itu, samping kiri disitu ada kaca-kaca, saya melihat dari luar, melihat orang lain membaca. Itu udah senang. Jadi saya hanya bisa menikmati orang lain membaca di dalam perpustakaan dari luar, dengan mengintip dari kaca itu,” kenang Edi di program Sosok yang dilansir situs detikcom Senin, (15/1).

Edi memang sudah cukup senang bisa melihat isi perpustakaan dari balik jendela. Namun di hati kecilnya, Edi merasa ini tak seharusnya terjadi. Ia percaya bahwa buku semestinya bisa diakses oleh siapa saja, terlepas penampilannya. Ditambah lagi, ia sangat memegang teguh sebuah frasa, ‘Buku adalah jendela dunia’ yang sering ia dengar saat masih belia. Keduanya menjadi sumber semangat Edi untuk mengubah situasi ini.

Muncul sebuah ide di kepala Edi. Ia ingin ‘balas dendam’ dengan mendirikan perpustakaan yang terbuka dan bebas dari aturan yang menghambat seseorang untuk lebih dekat dengan buku.

“Nah semenjak itu baru istilahnya ada rasa apa ya, balas, balas dendam ya. Balas dendam pengen bikin perpustakaan yang welcome-lah ya. Siapapun boleh datang tanpa harus mengikuti aturan yang ngejelimet gitu,”

Bukannya sirna ditelan waktu, mimpinya semakin bulat seiring dengan banyaknya buku pribadi miliknya. Hingga akhirnya tiba pada Januari 2010, sebuah nama pun tercetus: Taman Baca Masyarakat (TBM) Kampung Buku.

Didirikan di lahan milik teman Edi, Kampung Buku mulanya hanya berbentuk saung kecil. Sembilan tahun kemudian, seorang kenalan Edi menghibahkan tanahnya untuk jadi tempat bernaung Kampung Buku. Sejak saat itu, Kampung Buku menetap di Jalan Abdul Rahman, Gang Rukun No. 56, Cibubur, Jakarta Timur.

Dalam perjalanannya, Kampung Buku terus berkembang. Koleksi yang awalnya hanya berjumlah 200 buku, kini telah bertambah hingga mencapai lebih dari 4000 buku. Edi juga secara aktif menyumbangkan buku-buku ke perpustakaan dan taman baca lain di berbagai daerah.

Edi juga tetap teguh dengan prinsipnya yang ingin membuat perpustakaan ‘santai’. Ia tak menerapkan aturan peminjaman buku yang formal di Kampung Buku.

“Semua pengunjung adalah penjaga. Jadi mereka bebas, kalau mau pilih buku, pilih sendiri. Jadi mereka yang mencatat sendiri, terus ngembalikan sendiri. Kalau nggak balik, nggak apa-apa sih,” terang Edi.

“Ternyata, setelah merenung lagi emang justru kalau misalkan buku-buku yang ada di sini tuh harus dimiliki oleh orang-orang yang memang membutuhkan gitu. Kalau mereka emang pengin buku tersebut, dan butuh, ya nggak papa lah. Jadi sekarang udah nggak khawatir lagi sih kalau buku hilang,” lanjutnya.

Kini, Kampung Buku tak hanya jadi tempat membaca. Edi juga menyulap Kampung Buku menjadi wadah berkumpul dan berkarya untuk masyarakat, terutama anak-anak. Tiap Senin sampai Jumat, anak-anak usia pra-SD hingga SD dapat belajar bersama di Kampung Buku tanpa dipungut biaya.

Edi tidak bisa berhenti berinovasi. Untuk mendekatkan buku dengan anak-anak, ia membuat perpustakaan keliling. Proyek Edi yang dinamai ‘Kargo Baca’ ini dimulainya pada 2017. Tiap akhir pekan, Edi rutin memboyong beberapa koleksi Kampung Buku dengan sepeda ke beberapa ruang terbuka di Jakarta.

Meski telah bergerilya sejak 2010, Edi mengaku belum ingin berhenti meningkatkan literasi di kalangan masyarakat. Ia masih berharap suatu saat nanti akses buku di tiap daerah dapat dimaksimalkan. Edi juga siap menyokong persediaan buku-buku jika dibutuhkan.

“Kalau misalkan ada taman bacaan yang baru muncul, baru berdiri, wah semangat lagi saya. Jadi saya semangat ngirim-ngirim buku ke mereka. Karena kan katanya kan buku jendela dunia,” tandas Edi. [detik.com/foto: kompas.id]

Share and Enjoy !

Shares

Related Posts

Apresiasi Sapardi Djoko Damono, “Lorong Buku Batavia” Gelar Baca Puisi Hujan Bulan Juni

Dalam rangka mengapresiasi karya penyair dan sastrawan ternama Sapardi Djoko Damono (SDD), Komunitas Literasi “Lorong Buku Batavia” menggelar malam baca puisi “Hujan Bulan Juni”, Jumat (7/06) di area Lorong Batavia…

MUI Depok Luncurkan Buku Islam Wasathiyyah

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Depok, Jawa Barat meluncurkan buku berjudul “Islam Wasathiyyah Di Depok” yang berisi gambaran kehidupan Islami yang moderat di kota tersebut. “Melihat judul buku itu saya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You Missed

Apresiasi Sapardi Djoko Damono, “Lorong Buku Batavia” Gelar Baca Puisi Hujan Bulan Juni

  • By admin
  • June 11, 2024
  • 41 views
Apresiasi Sapardi Djoko Damono, “Lorong Buku Batavia” Gelar Baca Puisi Hujan Bulan Juni

Juni, Bulannya Sang Maestro, Sapardi Djoko Damono

  • By admin
  • June 1, 2024
  • 170 views
Juni, Bulannya Sang Maestro,  Sapardi Djoko Damono

RESENSI : Kesaksian Korban Pelanggaran HAM

  • By admin
  • May 23, 2024
  • 62 views
RESENSI : Kesaksian Korban Pelanggaran HAM

MUI Depok Luncurkan Buku Islam Wasathiyyah

  • By admin
  • May 6, 2024
  • 51 views
MUI Depok Luncurkan Buku Islam Wasathiyyah

Hari Buku Sedunia, Ikapi Singgung Sikap Permisif atas Pelanggaran Hak Cipta

  • By admin
  • April 24, 2024
  • 40 views
Hari Buku Sedunia, Ikapi Singgung Sikap Permisif atas Pelanggaran Hak Cipta

Buku adalah Senjata

  • By admin
  • February 16, 2024
  • 50 views
Buku adalah Senjata